PERKEMBANGAN SASTRA JAWA MODERN (Upaya Menghindari Aversitas) Christanto P. Rahardjo Universitas Jember Istilah sastra Jawa modern lebih memasyarakat atau sebagai cermin masyarakat hendaknya lebih berhati-hati dalam pemakaian. Sastra yang ditulis terlalu progresif sering tidak mendapat tempat di media massa. Sebaliknya, sastra yang "mineur" terus-menerus dapat membosankan dan akibatnya afinitas dapat berubah menjadi aversi. Sastra Jawa modern yang bersifat serius karena ditulis dengan visi yang sungguh-sungguh dapat memperlihatkan bobot intelektual penulisnya. Oleh karena itu sastra Jawa modern yang serius memiliki tanda-tanda memperlihatkan bobot intelektual penulisnya, menawarkan masalah yang bersifat eksperimental, menawarkan objek yang terpadu sesuai dengan polarisasi sosial yang menekankan pada makna pesan dan mampu mewujudkan bahasa yang puitik. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id PERANAN SASTRA JAWA TERHADAP PERKEMBANGAN BAHASA JAWA Suripan Sadi Hutomo IKIP Surabaya Pembinaan dan pengembangan bahasa Jawa telah dilakukan sejak zaman sebelum Indonesia merdeka dan tetap berlangsung hingga sekarang. Hal ini dilakukan baik melalui jalur formal maupun informal. Pada awal kemerdekaan dan pada paruh pertama tahun lima puluhan, pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa secara formal tampak pada terbitnya buku-buku semacam Wulang Basa, Racikan Basa, Sinau Basa, dan sebagainya. Di bidang pembinaan dan pengembangan sastra, khususnya sastra Jawa modern, persuratkabaran Jawa sangat mendukung. Dalam majalah Bahasa Jawa termuat cerita bersambung, cerita pendek, puisi Jawa modern dan bahkan kritik dan esei sastra Jawa. Di samping itu, untuk memacu pertumbuhan dan perkembangan sastra Jawa modern sering diselenggarakan sayembara mengarang sastra Jawa, baik berupa cerita bersambung, cerita pendek, maupun puisi Jawa modern. Hasilnya dimuat dalam majalah yang bersangkutan. Di samping menyelenggarakan sayembara, majalah bahasa Jawa juga menyelenggarakan hadiah tahunan sastra Jawa. Agar sastra Jawa mempunyai pengaruh terhadap perkembangan bahasa Jawa, orang Jawa sendiri harus aktif mengembangkannya. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id PENGEMBANGAN MODEL KAJIAN NASKAH-NASKAH JAWA Suyami Balai Kajian Jarahnitra Yogyakarta Perkembangan dan pengembangan model-model penggarapan dan pengkajian naskah-naskah Jawa telah berlangsung dari waktu ke waktu. Yang mula-mula mempelajari naskah Jawa adalah para penginjil yang dikirim oleh NBG pada awal abad ke-19, dengan tujuan untuk mengenal bahasanya, guna kepentingan penyebaran dan penerjemahan Alkitab. Selanjutnya, di antara mereka ada yang berminat untuk mengkaji naskah guna memahami isinya, kemudian menyunting untuk disebarluaskan, agar dikenal oleh kalangan yang lebih luas. Kegiatan tersebut kemudian berkembang dari yang semula masih sebatas pada penyuntingan dalam huruf aslinya (transkripsi), kemudian penyuntingan berupa transliterasi, kemudian transliterasi disertai terjemahan, dan akhirnya lebih berkembang lagi menjadi bentuk pengkajian. Mengenai pengembangan model kajian, oleh karena isi kandungan naskah mencakup hal yang cukup luas, bahkan dikatakan segala aspek kehidupan manusia di masa lampau telah terekam di dalamnya, maka model pengkajiannya bisa dikembangkan dalam lingkup yang lebih luas pula. Kajian naskah bisa dilakukan dari berbagai aspek, dari berbagai sudut pandang, serta oleh berbagai disiplin ilmu. Namun sebagai kajian naskah, apapun pendekatan yang digunakan, tetap tidak boleh meninggalkan prinsip dasar dan langkah kerja dalam penelitian naskah. Artinya, sebelum dilakukan pengkajian mengenai aspek-aspek atau isi kandungan naskah, naskah tersebut harus sudah diteliti secara filologis, baik mengenai pernaskahan maupun mengenai perteksannya. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id KESENIAN TRADISIONAL: Suatu Alternatif Pembinaan Bahasa dan Budaya Jawa Suwaji Bastomi IKIP Semarang Bahasa dan kesenian daerah adalah karya budaya daerah itu sendiri, maka bahasa dan kesenian daerah menjadi identitas daerah. Bahasa dan kesenian Jawa menunjukkan identitas serta kepribadian Jawa. Kesenian Jawa adalah kesenian asli yang lahir karena adanya dorongan emosi dan kehidupan batin yang murni atas dasar pandangan hidup dan kepentingan pribadi masyarakat Jawa. Bahasa dan kesenian Jawa merupakan akar budaya bangsa Indonesia yang mempunyai kekuatan untuk menyaring pengaruh kebudayaan asing serta meningkatkan kehidupan masyarakat Jawa khususnya, bangsa Indonesia umumnya. Mengingat begitu pentingnya fungsi dan peranan bahasa dan kesenian Jawa dalam segala aktivitas kehidupan sehari-hari maka dalam perkembangannya perlu pembinaan dengan sebaik-baiknya. Pembinaan bahasa dan kesenian tradisional Jawa dapat dilaksanakan secara terpadu melalui penampilan- penampilan seni pertunjukan maupun permainan peran di sekolah-sekolah. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id SERAT CETHINI SEBAGAI SUMBER INSPIRASI PENGEMBANGAN SASTRA JAWA H. Karkono Kamajaya Partokusumo Javanologi Yogyakarta Serat Cethini adalah kitab Jawa Klasik terdiri dari 12 jilid, kurang lebih 4.200 halaman tulisan tangan huruf Jawa. Kitab itu ditulis pada tahun 1814 M atas prakarsa Putera Mahkota Hamengkunegara II (Sunan Paku Buwana V). Kitab aslinya sudah tidak lengkap namun ada beberapa turunannya. Edisi Latin yang lengkap 12 jilid diterbitkan oleh Yayasan Cethini, Yogyakarta (1986-1991). Karya sastra terbesar itu disebut sebagai Ensiklopedi Kebudayaan Jawa. Serat Cethini ditulis dalam bentuk cerita pengembaraan, menjelajah pulau Jawa dari Timur sampai ke Barat dan menyusuri bagian Utara dan Selatan dengan tuntas. Isinya tentang segala sesuatu meliputi perikehidupan orang Jawa lahir batin, filsafat, kebatinan, agama hingga ketuhanan yang rumit, mencakup tradisi, kekayaan alam, adat kebiasaan, kepercayaan, hingga persoalan seks. Para pujangga abad XIX dan para pengarang abad XX menciptakan karya sastra dengan memanfaatkan bacaan Cethini. Serat Cethini adalah karya sastra raksasa kebudayaan Jawa yang kaya dengan unsur-unsur untuk menunjang terciptanya kebudayaan nasional. Oleh karena itu Serat Cethini perlu dikupas secara seksama. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id MACAPATAN SEBAGAI SARANA PELESTARIAN DAN PENGEMBANGAN SASTRA JAWA E. Suharjendro Yogyakarta Dengan sejarahnya yagn panjang, pada masa kejayaannya macapat merupakan kesenian kegemaran masyarakat. Macapat adalah unsur baku dan sumber kesenian tradisional Jawa. Karawitan, wayang, kethoprak, jathilan, apalagi langen Mandrawanara amat sarat dengan macapat. Bahkan karya sastra macapat merupakan satu-satunya bentuk sastra Jawa pada masa Demak, Pajang, Mataram, Surakarta, dan Ngayogyakarta. Pujangga macapat terakhir adalah R.Ng. Ranggawarsita. Namun dengan berubahnya zaman, dimana bahasa dan sastra Jawa hanya sebagai pendukung bahasa dan budaya nasional, keberadaan sastra macapat dengan macapatannya sekarang agak tersisih. Meskipun demikian, karena kepraktisannya (hampir tanpa biaya), kegiatan macapatan masih tetap eksis terutama di pedusunan (Jawa Tengah dan Yogya).Di Yogyakarta kini masih ada sekitar 187 grup macapatan yang didukung sekitar 3.740 seniman macapatan. Agar perkembangan macapatan tetap marak perlu ditempuh pembaharuan. Jika dulu macapatan menggunakan huruf-huruf Jawa maka kini menggunakan huruf latin. Bahkan kini ditempuh eksperimen macapatan dalam bahasa Indonesia. Melalui macapatan pelestarian dan pengembangan bahasa Jawa diharapkan tetap berjalan. Dengan demikian kegiatan macapatan mempunyai andil yang cukup besar bagi pengembangan bahasa Jawa di masa mendatang. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id JONGGRING DALAM TELAAH SASTRA Soewito Santoso Wiryonagoro Universitas Bantara Sukoharjo Kata jonggring adalah singkatan dari jonggring salaka yang berasal dari jong giri ng Kailaca' tempat persemayaman dewa-dewa dalam pewayangan'. Maksud yang sebenarnya ialah Kailacacikhara (puncak gunung Kailaca), persemayaman Dewa Ciwa dengan Dewi Dehardha ketika menciptakan alam semesta pada detik permulaan kalpa. Penciptaan alam semesta dilambangkan dengan tarian yang dilakukan oleh Dewa Ciwa yang disebut Natareja, raja dari segala penari. Dalam perkembangannya Dewa Ciwa dibantu oleh Dewi Dehardha sebagai sakti-nya. Hal itu menunjuk kepada agama Tantra atau saktism, yaitu pemujaan kepada dewi-dewi sebagai sakti (energi, kekuatan) daripada dewa-dewa. Yang terutama ialah Dewi Mahamaya yang membunuh raksasa Mahisasura. Di tanah Tamil (jazirah India Selatan) pemujaan berkembang menjadi pemujaan Kanyakumari yang menguasai Laut Selatan (dewi ibu alam semesta) yang mula-mula hanya seorang, kemudian berkembang menjadi tujuh, lalu delapan, dan yang terakhir jumlahnya adalah enam belas. Dewi Mahisasuramardini di kompleks Candi Prambanan diidentifikasikan dengan Lorojonggrang, si Dara Langsing. Kanyakumari, penguasa Samudra India diidentifikasi dengan Nyai Roro Kidul, sehingga terjadi identifikasi Kanyakumari = Mahisasuramardini = Dungga = Nyai ratu Kidul = Lorojonggrang. Nyai Ratu Kidul sebagai sakti sri Susuhunan Paku Buwana, sebagai manifestasi Dewa Ciwa, membantu mencipta dan memelihara alam semesta. Dalam tari Bedaya Ketawang, Nyai Ratu Kidul menggandakan dirinya menjadi namawatrika (sembilan dewi ibu alam semesta). Bangunan jonggring di kompleks Keraton Surakarta merupakan replika Kailacacikhara, tempat Dewa Ciwa (dalam manifestasinya sebagai Sri Susuhunan) dibantu Nyai Ratu Kidul bersamadi untuk memelihara alam semesta. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id MELACAK PENGUNGKAPAN DIALOG DALAM PEWAYANGAN DALAM HUBUNGANNYA DENGAN PERWATAKAN MASYARAKAT JAWA R.W. Cermo Soebarno Yogyakarta Seni pewayangan mengandung dua unsur utama, yaitu tontonan dan tuntunan. Sebagai sebuah tontonan pentas pewayangan menyajikan hiburan yang menarik penonton. Sebagai media tuntunan, seni pewayangan memaparkan ajaran hidup manusia sebagai hamba Tuhan karena manusia harus mempertanggungjawabkan jalan kehidupan yang dilewatinya itu kepada Tuhan. Pesan tuntunan pada pentas pakeliran (pewayangan) masa lampau dan sekarang berbeda. Pada masa lampau pesan pakeliran lebih dititikberatkan pada aspek-aspek nonfisik (spiritual). Sedangkan pesan tuntutan pakeliran masa sekarang lebih bersifat fisik dan penyampaiannya kadang-kadang terkesan sangat vulgar. Percakapan antartokoh pewayangan dalam pentas pakeliran mampu mempengaruhi perwatakan pendengar atau penonton. Semakin sering seseorang mendengar atau menonton pentas pakeliran, ada kecenderungan semakin tinggi pula tingkat perubahan perwatakan orang tersebut. Hal ini dapat disamakan dengan proses belajar. Percakapan para tokoh wayang dalam sebuah pementasan merupakan sumber inspirasi bagi penonton atau pendengar dalam mengubah perwatakannya; dari kurang baik menjadi baik,dari tidak sempurna menjadi sempurna. Percakapan tokoh wayang yang dijadikan idola umumnya sangat bergantung pada minat penonton atau pendengar. Watak-watak tokoh wayang yang sering ditonjolkan antara lain bahwa orang Jawa tebal rasa keimanannya dan besar rasa tanggung jawabnya dalam bela negara. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id BAHASA JAWA DALAM TEMBANG DOLANAN ANAK-ANAK I.C. Sudjarwadi Universitas Jember Bahasa Jawa dalam tembang dolanan anak-anak adalah bahasa Jawa dalam guritan (puisi) anak-anak Jawa yang ditembangkan atau dilagukan. Bahasa Jawa dalam tembang dolanan anak-anak berupa bunyi, rima, irama, diksi, dan gaya bahasa. Bunyi mencakup aliterasi, asonansi, eufoni, dan kakofoni. Bunyi tersebut dapat menimbulkan kemerduan atau keindahan serta kepuitisan guritan anak-anak yang ditembangkan. Di samping bunyi, bahasa Jawa dalam tembang dolanan anak-anak juga berupa rima yang meliputi rima berangkai, rima berselang, rima berpeluk, rima rata, dan rima bebas. Rima tersebut mampu mendukung kepuitisan guritan. Irama atau alunan nada, tempo, dan dinamik meliputi metrum dan ritme yang sangat mendukung kemerduan tembang. Diksi mencakup kata-kata denotatif dan konotatif yang saling berkaitan dan mendukung, sehingga dapat membentuk kalimat yang hidup dan komunikatif serta puitis. Pengarang menggunakan gaya bahasa yang berdasarkan struktur kalimat mencakup klimaks, paralelisme, antitesis, dan repetisi. Gaya bahasa berdasarkan langsung tidaknya makna mencakup gaya retoris (hiperbol dan paradoks), serta gaya kiasan (simile dan personifikasi). Dengan gaya bahasa tersebut, tembang dapat menjadi lebih hidup dan dinamik. Tembang dolanan anak-anak mengungkapkan masalah permainan anak-anak yang berkaitan dengan (1)alam (flora, fauna, lingkungan), (2)raksasa, (3)tokoh sejarah, (4)dunia anak-anak, (5)keadaan lalu lintas dan alat-alat permainan. Permainan ini menghibur dan menggembirakan anak-anak serta anak-anak menjadi dinamis. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id SASTRA JAWA DALAM PENDIDIKAN MORAL PANCASILA Hazim Amir IKIP Malang Sastra adalah aspek yang amat penting dalam bahasa. Ia mengangkat bahasa ke tingkat estetik yang sangat tinggi. Namun sastra dianggap sebagai "anak tiri" kehidupan. Sastra Jawa amat erat kaitannya dengan moralitas. Hampir semua karya sastra Jawa bersifat didaktik. Ini disebabkan karena masyarakat tradisional yang menjadi pemangkunya selalu "berpikir satu". Mereka menciptakan karya sastra/seni untuk mengajarkan nilai-nilai tersebut sebagai kesatuan yang bulat. Pendidikan Moral Pancasila belum pernah direncanakan dan dilaksanakan secara konseptual. Sastra Jawa (dalam hal ini wayang) bisa memberi kontribusi banyak dalam pembentukan dan pelaksanaan konsep PMP, meliputi (1)bidang falsafah yang mendasarinya, berupa falsafah pendidikan, falsafah kenegaraan (Pancasila), falsafah IPTEK, falsafah budaya, falsafah komunikasi dan sosialisasi, dan falsafah moral; (2)bidang tujuan pendidikan, yang sesuai dengan falsafah pendidikan; (3)bidang materi pendidikan, yang sesuai dengan (1) dan (2); (4) bidang metode pendidikan, yang sesuai dengan (1),(2), dan (3); (5)bidang evaluasi, yang sesuai dengan (1),(2),(3), dan (4). Ada beberapa kendala yang menghalangi terlaksananya PMP dengan mempergunakan nilai-nilai religius, filosofis, etis, dan estetis yang ada dalam wayang, yakni kurangnya perhatian dari pihak-pihak pemerintah, ilmuwan, etikus dan pendidik, penulis buku, sekolah formal, dalang, peserta didik, dan media massa. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id BOROBUDUR AND SARVATATHAGATATATTVASAMGRAHA: A New Interpretation of Borobudur Kazuko Ishii Tokyo University of Foreign Studies Dalam makalah ini penulis mencoba merekonstruksi pantheus Buddha dari Sang Hyang Kamahayanikan (SHk). Ia menemukan bahwa 'Mahavairocana' dalam Tattvasamgraha berkorespondensi dengan 'Diwarupa' dalam Kang Hyang Kamahayanikan. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa pantheus Borobudur didasarkan pada deskripsi Nidana dan persatuan dari lima tathagatas dalam Tattvasamgraha. Diwarupa dalam SHk menggambarkan kasunyatan sejati (ultimate reality). Kasunyatan sejati ini dipersonifikasikan sebagai Buddha. Buddha ini berkorespondensi dengan 'Mahavairocana' yang bersemayam dalam hati Sarvatathagatas dalam Tattvasamgraha. Vairocana berarti 'yang bersinar', sedangkan Diwarupa berarti 'sumber cahaya' (body of light). Dalam SHk, hubungan antara kasunyatan sejati, Diwarupa, dan personifikasinya, Bhatara Hyang Buddha, dijelaskan sebagai Sang Hyang Diwarupa Sira Bathara Hyang Buddha Ngaran Ira (Diwarupa is Lord Buddha by name) dan Sira sebagai Sang Hyang Diwarupa-nya. Pinakawak Bhatara Hyang Buddha adalah substansinya. Maka kasunyatan sejati ditimbulkan dengan Diwarupa dipersonifikasikan dengan Bhatara Hyang Buddha. Penulis berpendapat bahwa kasunyatan sejati yang disimbolkan dengan Diwarupa mengasumsikan bentuk esensi Buddha yang terkandung dalam Bhatara Hyang Buddha. Kasunyatan sejati atau Dharma dalam Buddha di luar jangkauan kognisi dan imajinasi, tetapi termanifestasi dalam tubuh Yogi dalam konsentrasi mental. Pengungkapan dan penetrasi kasunyatan sejati merupakan pencapaian unio-mystica Buddha atau pencerahan. Dalam Sutasoma, Dharma menggambarkan kasunyatan sejati. Dharma atau kasunyatan sejati meliputi Siwa dan Buddha. Dalam Sutasoma, Diwarupa berkorespondensi dengan Dharma. Suksma berkorespondensi dengan kasunyatan sejati. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id FUNGSI JAWA KUNA DAN RELEVANSINYA DI SEPANJANG MASA S. Supomo The Australian National University, Canbera, Australia Tepat seribu tahun yang lalu, di suatu keraton di Jawa Timur telah dilangsungkan pembacaan perdana hasil pertama proyek "penjawaan buah pikiran Byasa". Sejak itu sastra Jawa Kuna terus tumbuh dengan subur di Jawa Timur selama lebih dari 400 tahun. Sayang, sastra Jawa Kuna tidak bisa melepaskan diri dari akar-keratonnya. Keterikatan sastra pada keraton itu ternyata fatal bagi kelangsungan hidup sastra Jawa Kuna, ketika Majapahit jatuh dan kemudian diikuti dengan kemelut perang antara para penguasa besar-kecil selama lebih dari dua abad. Namun, daya tarik sastra Jawa Kuna bagi masyarakat Jawa tetap kuat. Bahkan masuknya karya sastra dari dunia Islam ternyata juga tidak mengurangi kepopuleran gubahan sastra Kawi dan lakon yang berdasarkan karya sastra Jawa kuna. Bahwa sastra Jawa Kuna bisa hidup dan berkembang selama itu tentulah karena masyarakat Jawa di masa-masa lampau memandangnya sebagai sesuatu yang tetap relevan untuk kehidupan mereka. Barangkali ini ada kaitannya dengan empat fungsi sastra Jawa Kuna, yaitu (1)fungsi spiritual-keagamaan, (2)magis-politis, (3)didaktik, dan (4)pelipur. Dengan demikian, setiap orang merasa bisa mendapatkan manfaat dari karya sastra, atau dari gubahan dan lakon wayang yang berdasarkan karya sastra itu. Penggunaan bhineka tunggal ika sebagai semboyan di dalam lambang negara kita menunjukkan bahwa karya Jawa Kuna bisa tetap relevan, atau di-relevan-kan, untuk masa kini, baik bagi kebutuhan hidup pribadi maupun bagi kehidupan bangsa. Karena itu disarankan di sini agar untuk memperingati penulisan parwa 1000 tahun yang lalu - yang telah merupakan impetus bagi perkembangan sastra Jawa Kuna - dilakukan dua usaha besar, yakni (1) menyunting semua "candi bahasa" yang sampai pada kita, dan kemudian menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia; (2)menerjemahkan mahakarya dunia ke dalam bahasa Jawa, dengan harapan agar dapat merupakan impetus bagi perkembangan sastra Jawa modern untuk masa 1000 tahun yang akan datang. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id PERAN SASTRA JAWA DALAM DUNIA PENDIDIKAN Parwatri Wahjono Universitas Indonesia Sastra Jawa merupakan sarana pembentuk keindahan dan sarana pendidikan watak dan moral melalui daya sentuhnya yang halus dan kuat terhadap jiwa manusia. Karya sastra Jawa yang mengandung unsur didaktis biasanya secara eksplisit dinyatakan sebagai sastra wulang, ethics, moral. Sastra wulang meliputi tuntunan dalam bidang pemerintahan, agama, dan budi pekerti. Ajaran-ajaran tersebut ada yang dijalin dalam cerita dan ada pula yang yang dijalin dalam sastra noncerita. Kitab-kitab yang khusus memuat ajaran-ajaran yang tidak dijalin dalam cerita antara lain Wulangreh, Wulang Sunu, Wulang Dalem, Wedhatama, Tripama. Adapun pendidikan moral yang dijalin dalam dongeng antara lain Bayan Budiman, Serat Kancil, Dongeng Sato Kewan, Sastra Niti, misalnya berisi tuntunan bagi seorang raja; dalam Serat Tripama diajarkan teladan untuk prajurit; dalam Serat Wiro Isworo diajarkan tuntunan kepada wanita; dan dalam cerita Bayan Budiman diajarkan kesetiaan wanita kepada suaminya. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id PERANAN LSM DALAM PEMBINAAN SASTRA JAWA Slamet Riyadi Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta Sanggar Sastra Jawa Yogyakarta (SSJY) merupakan salah satu Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang mempunyai kepedulian terhadap kehidupan sastra Jawa. Dalam usianya yang masih cukup muda (lahir pada tanggal 12 Januari 1991), SSJY berusaha memenuhi tugasnya, sebagai wadah, motivator, dan mediator para pengarang, penerbit, dan pembaca karya sastra Jawa. Untuk melaksanakan tugas itu, SSJY menjalin kerjasama dengan para sponsor, baik lembaga pemerintah (Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta, Taman Budaya Yogyakarta, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Propinsi DIY, dan Bidang Kesenian Kanwil Depdikbud Propinsi DIY), maupun nonpemerintah - termasuk organisasi pengelola seni budaya (Dewan Kesenian Yogyakarta, Lembaga Studi Jawa, Radio Arma 11, Suara Nubari, dan Gurit Gemuruh). Tugas yang dapat dilaksanakan secara rutin adalah penyelenggaraan sarasehan dua bulanan (dengan menghadirkan pembicara khusus) dan penerbitan majalah Pagagan dua bulan sekali. Kemudian, sejak ulang tahunnya yang ketiga, SSJY menyelenggarakan peringatan dalam forum sarasehan dan pentas seni serta parade baca guritan dan cerkak. Selain kegiatan rutin di atas, SSJY ikut berperan serta secara aktif dalam kegiatan yang melibatkan kesastraan Jawa. Misalnya, kegiatan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) yang diprakarsai oleh Dewan Kesenian Yogyakarta (DKY), Lomba Penulisan Cerkak dan Guritan yang diselenggarakan oleh Taman Budaya Yogyakarta bekerja sama dengan DKY (1991), dan Lokakarya Penulisan Cerkak dan Guritan yang diselenggarakan oleh BalaiPenelitian Bahasa Yogyakarta bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakarta (1991). Dari kegiatan-kegiatan tersebut di atas, tampak bahwa gairah pengarang sastra Jawa di kawasan DIY dan sekitarnya semakin meningkat dan kualitas karya mereka semakin berbobot. Peningkatan itu tampak dengan berhasil diterbitkannya sejumlah karya mereka, misalnya Jangka (Suwardi, 1995), Lintang saka Padhepokan Gringsing (Suharyono, 1995), Ratu (Mihardja,1995), dan Siter Gadhing (Djaimin, 1996), serta lima buah antologi cerkak dan guritan yang diterbitkan oleh Panitia FKY. Di samping itu, ada pula beberapa anggota SSJY yang berhasil meraih kejuaraan berkat karya terbaiknya. Mereka itu, antara lain, adalah Djaimin K, Turio Ragilputra, Krishna Mihardja, dan Suwardi. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id SASTRA MADURA: Yang Hilang Belum Berganti D. Zawawi Imron Sumenep Di masa lampau sastra lisan Madura banyak diminati masyarakat. Bentuk sastra lisan itu, antara lain, dungngeng, lok-alok, syi'ir, tembang, puisi mainan anak-anak. Meskipun ada pendapat modern yang menyatakan bahwa sastra tidak harus menjadi cermin masyarakat, namun sastra Madura justru menjadi cermin dari kesanggupan menghadapi kehidupan; alam yang keras dan berbatu cadas dan lautan yang garang, di samping sikap terhadap Tuhan yang menciptakan alam semesta. Meskipun demikian dewasa ini sedikit, bahkan dapat dikatakan tidak ada, yang berminat menulis sastra dalam bahasa Madura. Bahkan tokoh-tokoh sastrawn Madura, seperti Abdul Hadi WM, Moh. Fudoli, dan lain-lain lebih suka menulis dalam bahasa Indonesia. Sedangkan nama-nama penerjemah sastra Madura yang terkenal seperti SP Sastramihardja, R.Sosrodanoekoesoemo, R. Wongsosewojo kini telah tiada dan belum ada penggantinya. Mungkin hal ini merupakan sebuah proses sastra Madura sedang mengindonesiakan diri. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id FUNGSI SOSIAL GEGURITAN BAHASA JAWA Akhmad Nugroho dan Djarot Heru Santoso Universitas Gadjah Mada Puisi Jawa Modern atau geguritan sejak pertama kemunculannya dalam khasanah satra Jawa sampai sekarang ini banyak ditulis dan terus bertambah. Aneka tema yang terkandung dalam geguritan menunjukkan bahwa banyak hal yang ingin dikemukakan para penyair dalam karyanya. Masalah sosial yang berhubungan dengan kehidupan masyarakat juga menyentuh perasaan penyair. Banyak geguritan yang mengungkapkan kepincangan sosial, menaruh nada simpati kepada golongan atas, bahkan melayangkan protes terhadap adanya kepincangan sosial. Apa yang telah dilakukan para penyair sastra Jawa modern menunjukkan betapa mereka, selain peduli perkembangan sastra Jawa, juga peduli lingkungan sosialnya. Dengan demikian, geguritan tidak hanya berfungsi sosial; menjembatani kepentingan antaranggota atau kelompok masyarakat. Dengan caranya sendiri, rupanya para penyair sastra Jawa berusaha ikut bertanggung jawab terhadap masyarakat sekelilingnya. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id TRADISI PENERJEMAHAN DALAM SASTRA JAWA Pardi Balai Penelitian Bahasa Yogyakarta Dewasa ini kemandegan tradisi terjemahan dalam sastra Jawa perlu dihidupkan kembali. Akan tetapi, yang perlu diperhatikan adalah situasi kebahasaan masyarakat Jawa saat ini. Saat ini sebagian besar masyarakat Jawa adalah dwibahasawan. Oleh karena itu cara-cara terjemahan sastra Jawa yang dilakukan pada masa lampau sudah tidak cocok lagi. Pada masa prakemerdekaan Balai Pustaka banyak menerbitkan karya sastra berbahasa Jawa aygn merupakan terjemahan dari karya sastra berbahasa Melayu. Usaha itu bermanfaat karena saat itu masyarakat Jawa umumnya hanya mampu berbahasa Jawa, dan dengan demikian maka sedikit sekali orang Jawa yang mampu memahami teks sastra berbahasa Melayu. Dewasa ini kondisi kebahasaan masyarakat Jawa berubah. Dalam masyarakat Jawa yang umumnya dwibahasawan, cara terjemahan yang cocok adalah adaptasi dan modifikasi. Penerjemah diharapkan mampu mengambil unsur yang dapat mengembangkan peradaban Jawa dalam sastra Indonesia atau satra asing. Di samping itu, perlu pula diupayakan pemerluasan wilayah baca sastra Jawa dengan jalan menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia, atau bahkan asing. Selanjutnya, perlu pula dibangun suatu pandangan yang menilai pentingnya sastra terjemahan, sehingga karya sastra terjemahan tidak dipandang sebagai karya sastra kelas dua. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id PERANAN SASTRA JAWA SEBAGAI SUMBER SARANA PEMBANGUNAN MENTAL BANGSA Asia Padmopuspito IKIP Yogyakarta Tujuan yang akan dicapai dari penulisan makalah ini adalah menginvestasikan pesan-pesan sastra Jawa Kuna dan Jawa Baru yang dapat dipakai sebagai sarana pembangunan mental bangsa. Makalah ini merupakan laporan hasil penelitian terhadap tujuh belas pustaka hasil sastra Jawa Kuna dan Jawa Baru. Melalui metode deskriptif dikumpulkan sejumlah pesan yang terkandung dalam pustaka-pustaka itu. Intisari yang terkandung dari budi pekerti yang tercermin di dalam sastra Jawa adalah perilaku yang memantulkan budi pekerti yang luhur dengan bekal "tepa slira". Adapun kriteria budi luhur ada tiga tingkatan, yakni hina (nistha), madya, dan utama. Hendaknya orang menghindarkan diri dari perbuatan yang termasuk dalam kategori hina, dan mengupayakan perilaku yang termasuk dalam kategori utama. Budi pekerti utama itu dikuatkan dengan etos kerja yang tinggi baik menurut konsepsi Kyai Sarataka maupun Mas Ngabehi Mangun Wijaya. Selain itu setiap warga negara Indonesia wajib melestarikan kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia. Untuk itu sikap mental Erlangga, yang memiliki sifat yogi, perlu dijiwai oleh setiap warga negara Indonesia. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id POTENSI BAHASA DAN SASTRA PIWULANG / SULUK JAWA DALAM PEPAKEM ORGANISASI PANGESTU SUBUD Supanta Universitas Veteran Bangun Nusantara Sukoharjo Karya sastra suluk dapat disamakan dengan mistik maupun tasawuf, yang mengandung piwulang pengolahan jiwa atau rohani manusia dalam mencapai kesempurnaan. Hal itu dilakukan melalui komunikasi dengan Tuhan yang Maha Esa dalam kesatuan dengan jalan yang urut. Lahirnya piwulang-piwulang yang terdapat dalam karya sastra dan bahasa mucul di Indonesia sudah sejak lama. Jika dilihat di Jawa pada zaman Wali muncul suluk bermacam-macam. Bahkan zaman Ranggawarsita muncul karya Wirid, dan abad 19 muncul serat cethini yang terkenal dengan istilah suluk Tambangraras. Keberadaan Pangestu dan Subud makin memperkuat dan memantapkan manusia menghayati dirinya dlaam mendekat kehadirat Tuhan Yang Maha Esa. Piwulang yang terdapat di dalamnya tidak berdiri sendiri melainkan bagian dari "mensenkennis", adalah ilmu tentang manusia dan kemanusiaan yang universal. Dikaji dari evolusi batin, sasana ajaran manusia dengan segala aspek dan dimensi humanistik dan dipandang sebagai "involusi hayati" atau piwulang bersifat kosmologis, yang mempersoalkan manusia dan alam raya. Baik dari wawasan antroposentris maupun kosmologis adalah mempersoalkan hubungan antar manusia, yang tidak bertentangan melainkan saling melengkapi dan berhubungan. Manusia pada umumnya sebenarnya merupakan Khalifatullah dalam arti utusan Ilahi yang mulia sehingga manusia sempurna itu berhak menentukan prospek hari depan yang gemilang. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id KONSEP SIMBOL PERLAWANAN BUDAYA DALAM NASKAH PASISIR JAWA TENGAH Trias Yusuf PUT Universitas Diponegoro Masyarakat saat ini memandang bahwa naskah sastra Jawa merupakan naskah yang berasal dari keraton. Keraton merupakan wilayah yang dipimpin oleh seorang raja. Sebagai wilayah, tentu tidak harus memiliki lokasi budaya yang sama. Keraton di Jawa pada masa lalu mempunyai wilayah tidak saja di pedalaman, tetapi juga di pesisir. Wilayah pesisir dan pedalaman itu mempunyai ciri budaya yang berbeda. Salah satu ciri budayanya dapat diketahui dari teks dalam naskah sastra Jawa. Naskah sastra Jawa yang berasal dari pesisir di Jawa Tengah dinamakan naskah pesisir. Naskah pesisir ini ditulis dengan bahasa dialek Jawa setempat dan mempunyai isi yang mempunyai versi tersendiri bila dibandingkan dengan naskah yang berasal dari keraton. Tempat penyimpanan naskah pesisir kebanyakan bukan berada di museum atau keraton seperti pemahaman masyarakat saat ini, tetapi justru banyak berada di masyarakatnya. Naskah yang telah tua usianya kebanyakan bukan sebagai bahan bacaan lagi, melainkan sebagai benda-benda keramat. Naskah pesisir yang digunakan dalam makalah adalah naskah yang disimpan oleh Pak Marawan dari desa Sukodono, Jepara. Ceritanya tentang perilaku Sultan Agung. Dalam naskah Babad Mataram versi keraton terlihat kemaharajaannya, sementara di Pasisir, justru terlihat bagaimana liciknya beliau untuk bertahan di wilayah pasisir. Versi yang berbeda antara naskah di pesisir dan di pedalaman mempunyai pesan untuk melakukan perlawanan budaya. Secara fisik, pada masa Mataram, wilayah pasisir merupakan wilayah taklukan dari wilayah pedalaman. Sebagai wilayah taklukan, masyarakat pasisir melakukan perlawanan budaya. Perlawanan budaya dari masyarakat pasisir justru masih terasa sampai saat ini dengan pemakaian bahasa Jawa krama pada pengucap untuk menunjukkan ketinggian diri dari masyarakat pesisir. Versi berbahasa dan penulisan teks di wilayah pesisir bukan merupakan variasi kesalahan, tetapi merupakan kesengajaan untuk menunjukkan kesederajatannya. Sehingga jati diri pesisir perlu dianalisis sesuai dengan konteksnya dari wilayah pasisir. Hal ini untuk memperkaya kepribadian budaya bangsa. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id MENGGALI FOLKLOR JAWA UNTUK DIMASYARAKATKAN Siti Parwati Sumarto D. Universitas Airlangga Menurut James Danandjaja folklor adalah sebagian kebudayaan suatu kolektif, yang tersebar dan diwariskan turun temurun, diantara kolektif macam apa saja, secara tradisional dalam versi yang berbeda baik dalam bentuk lisan maupun contoh yang disertai dengan gerak lisan maupun dengan gerak isyarat atau alat pembantu pengingat. Dari berbagai bentuk folklor yang dijelaskan di atas, untuk membatasi pokok pembicaraan, makalah ini hanya akan menyoroti masalah ungkapan tradisional. Menurut pembagian bentuk folklor Jan Harold Brunvand, ungkapan tradisional dimasukkan dalam bentuk folklor lisan. Dalam makalah ini lebih khusus lagi akan dilihat bentuk ungkapan tradisional Jawa, yaitu paribasan, bebasan, dan saloka yang terdapat di dalam teks "Paribasan katrangke sarana dongeng" (PKSD). Ada tiga hal yang akan kamu kemukakan lebih lanjut dalam makalah ini, yaitu: (1)teks PKSD ini sekaligus memuat dua folklor: paribasan dan dongeng, (2)teks PKSD ternyata tidak hanya memuat paribasan, tetapijuga bebasan dan saloka, (3)teks PKSD sarat dengan nilai pendidikan dan berbagai nasihat seperti terungkap dalam dongeng-dongengnya. Mengingat isi pentingnya makna yang terkandung dalam ungkapan tradisional Jawa, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, antara lain: (1)dikesampingkannya ungkapan-ungkapan bahasa Jawa ini karena kalah bersaing dengan tradisi lain/asing yang ditayangkan lewat media elektronik, dan memang pada jaman ini orang disibukkan oleh kegiatan berbagai macam, (2) "kekalahan" ini hendaknya dapat diimbangi dengan usaha-usaha melestarikannya lewat pendidikan di sekolah-sekolah dan/atau lomba bahasa & sastra, (3) paribasan yagn bagus harus dijaga jangan sampai mengalami plesetan atau menyimpang dari teks aslinya, (4) ciri orang modern adalah "waktu", maka jika dikaji paribasan ternyata lebih ekonomis dalam penggunaan kata-kata. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id INOVASI TEMBANG JAWA Ranta Atmadja Al-Djumiran SMKI Surabaya Tembang Jawa semula berfungsi sebagai sarana puji-pujian kepada roh nenek moyang dalam upacara keagamaan. Setelah melalui tahap-tahap dalam setiap kurun waktu mengalami perubahan fungsi. Dengan melewati beberapa periode Tembang Jawa menurut kondisinya terpisah menjadi dua model. Yang model I berupa tembang dengan syair bebas menjelma menjadi lagu (gending) dolanan. Model ke II berupa tembang bersyair terikat menjelma menjadi 3 jenis tembang, yaitu Tembang Gedhe, Tembang Tengahan, Tembang Macapat. Ke-3 tembang bersyair terikat tersebut yang paling digemari masyarakat adalah tembang Macapat. Hal ini disebabkan oleh kemudahan-kemudahan ikatan Macapat. Khususnya kalimat dalam syair, oleh masyarakat kemudahan itu terlihat dalam cipta-karyanya, di mana setiap pelakunya hampir semua bisa melakukannya. Kini mengalami kemerosotannya. Seolah-olah baru ditinggalkan oleh bapa-ibunya, karena sedang membangun negara demi kebahagiaan bersama termasuk untuk si dia ke-3 jenis tembang itu sendiri. Selama ditinggalkan, ia tetap mempertahankan identitas dengan inovasi-inovasinya. Dalam menginovasi, iapun selalu bersandar kepada era-era yang ada, khususnya dengan Bahasa Jawa yang sedang berlaku pada saat itu ia lakukan. Akhirnya dengan kondisi yang ada timbul kesadaran, bahwa bagaimanapun ua tidak boleh kecil hati, bahkan harus ikut ambil bagian dalam pembangunan rumah (negara)-nya. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id PERAN PINJAM LEKSIKON DAN ALIH KODE BAHASA JAWA DALAM SAJAK-SAJAK "GOLF UNTUK RAKYAT" Heru Supriadi dan Cristinawati Universitas Airlangga Puisi sangat pantas dicermati karena di dalamnya terkandung nilai-nilai universal yang bermanfaat bagi perkembangan spiritual manusia. Dalam upaya mengungkap nilai-nilai itu, pendekatan struktural semiotik dapat dilakukan. Peminjaman leksikon bahasa Jawa yang digunakan dalam puisi "Golf untuk Rakyat" tidak berbeda dengan aspek yang muncul dalam penggunaaan alih kode. Semuanya berpijak dan berpihak pada rakyat yang tidak dapat berbuat apa-apa karena kelemahan dan ketidakberdayaan. Bahan yang digunakan dalam kumpulan "Golf untuk Rakyat" kebanyakan berkenaan dengan aspek sosial orang kecil Jawa yang sumarah pada kekuasaan Sang Maha Pencipta. back to index Any comments can be directed to Webmaster@petra.ac.id