LAUT kuselami ia di keluasan wajahmu agar dengan cinta kukenali gemuruhmu sampai riak di lengan ombak jadi buih menjadi bunga-bunga tasbih bersembunyi dalam kerang dan mutiara terseret gelombang asmara aku terjaga perahu dan jiwaku menjelma pasir pantai bertaburan dalam angin, hembusan nafasmu meniupkan kehangatan paru-paru dan dekapan sebuah jalan setapak tercipta dari jejak-jejak yang kautinggal di pesisir jiwa 1990 TERTAMBAT perahu di tasbihku berlayar di celah jemari - di genggaman laut lalu sesudah kautiupkan roh pada bentangan layar badai cinta menenggelamkan ia di dalam airmata karam ke dalam hati 1994 MIHRAB 1 aku sampai sunyi menemukan sufi, lantaran gelap pengembaraan menjelma tasbih yang menawarkan cahaya dari titik embun dari purnama hingga matahari dan galaksi sepanjang malam hanyut bersamaku, membentang suluk di atas sungai nurani, melayarkan riak-riak sinar dari doa-doa yang terapung di selaput mata minta dipahat sebagai perahu dalam tiap sujudku untuk berlayar dan berlabuh karena lautmu 1994 MIHRAB 2 inilah ruang kerinduan menemukan kembali sajadah dan airmata yang senyap dilipat jarak perburuan kuhirup udara kubah kureguk airmata kekasih berapa musim terlintas terlupakan hingga perjumpaan tercinta terkabulkan dan beranda yang kunanti sebagai matahari adalah mihrab. Mempertemukan apa saja dari tirakat dan doa 1994 MIHRAB 3 berkali-kali kubangun laut semata ingin kutampung sendiri segenap muara airmata lalu kubakar perahu yang merentak jarak pada cinta dan pengembaraan, ingin kuberenang saja dalam lautan api cinta, menyala kepadamu seperti tasbih dalam keagungan nurmu kekasih, gelombangmu bergemuruh aku pantai sunyi 1994 SILHUET LAUT sebab hanya laut mampu disempurnakan ombak kauciptakan gemuruh dalam gelombang-gelombang sajak menghanyutkan sampan. Nisan dan kesepian adakah ruang kembali sebab jalan telah raib bagi penempuhan sia tak ada airmata. Sekali lagi: Nisan dan kesepian sebab bagaimana mengungkapkan kata pada luka ketika pengertian jadi sajak-gelap tanpa penghabisan laut mati adalah muara selalu mungkin merangkummu dalam cadik ziarah laut mati adalah muara bagi sungai-sungai pada sujudmu yang basah entah tentang apa ... 1990 SUNYI 1 matahari bertambah renta biarkan merah di langit cendana tapi hitam cemara menaburkan harum malam pertama ke tenggara, bulan menanggalkan gaun cahaya kurahasiakan ia, kugelisahkan ia dalam telanjang sehabis harapan dan runtuhan doa panjang dan senja di langit jauh melayarkan pelaut tanpa sauh kubiarkan ia jadi legenda 1993 SUNYI 2 aku tak mencari kesunyian apa pun seperti juga mawar dibungkam keindahan, menjadi sunyi aku tak menyepi tak khalwat apa-apa, sekalipun airmata sungai bermuara pusara, tak bertepi senyap dermaga dan aku tak menjanjikan laut berlayarlah di keheningan, abad abad akan berpaut kenangan hingga kenangan hingga pertapaan lalu langit tinggal selubung kafan sunyi tak akan mati 1993 SECARIK SAJADAH secarik sajadah tergeletak di shufah, mungkin suratmu dengan hati-hati kupungut keheningan itu dan kubuka di kedalaman pintu aku berlari kasmaran bertakbir keharuan, menjadi shalatku hingga airmata berjatuhan ke dalam rindu menempuh iftitah di dalam haru sesungguhnya airmata adalah tinta, menulis di kesunyian jiwa lantaran tak cukup memanggil-manggilmu lewat celah surau dan ketinggian menara sesungguhanya tak habis rakaat hingga subuh merah dan pena berkarat di pintu munajat bait doa kurangkai menjawab suratmu meski tak pernah sampai 1994 SEHABIS TASBIH ini malam keemasan yang kunantikan sehabis tasbih antara kita; jarak terbentang sebagai laku ibadah malam jadi seharu aku lampu-lampu di lelangit kubah berpendaran. Menjadi tasbih. Lalu jatuh di pangkuan "Dan panggilah nama Tuhanmu berkali-kali dan mahasucikanlah ..." terasa di kerut wajah, kerinduan berjumpa memberi tanda petik pada arti kehidupan percakapan apakah mengalir dalam gelombang cemas tapi suluk pun tak pernah tuntas 1990 DINDING PERCAKAPAN percakapan kita adalah embun yang mengeras di luasan kelopak mawar. Menjaga harum ciuman menjaga warna langit, agar kelak tak menghitam jadi: bicaralah seadanya tapi abadi tempat gerakmu dapat kubaca sebagai prasasti 1994 TERSIMPUH tersimpuh pada halaman surat-surat lebur aku khusuk dalam tulisan cinta bergemuruh pada rerumputan bulumata sampai tatapanmu, kekasih aku ikuti jejak malam keemasan kausematkan purnama di langit sunyiku terlarut dalam alunan ayat-ayat airmata berpendaran menyala cahaya ibadah menerangi mihrab hingga subuhku kutanamkan doa-doa kuimpikan semerbaknya berulangkali menanti pagi tiba, fajar sujudku terharu di shufah rumahmu kaupancarkan berkas matahari, keimanan dan percaya diri bersinaran di celah-celah pencaran airwudhu bersinaran tak henti-henti 1991 RUANG SEMADI aku memantik hitam langit membebaskan sunyi dari kegelapan hingga puncaknya aku tersujud percikan bunga api seperti menulis jiwaku di angkasa dengan goresan yang melesatkan aku pada kedalaman semesta aku tak sendiri 1994 PRASASTI MALAM pada pipimu kualamatkan airmata menatah prasasti perjalanan kepadamu dan bintang-bintang selalu mengakhiri kalimatku dengan titik-titik cahaya 1994 PURNAMA DI ATAS KANVAS biarkan batinmu sendiri bersama langit hingga rintihan menjadi doa melapangkan gerak airmatamu menggoreskan ridha ketika embun meneteskan putih hingga laut cahaya biarkan melukis purnama pena ini dari tangkai bunga tasbih khusus menulis cinta kasih 1994 SOLITUDE BUNGA bunga telah mati maka dengan apakah kupetik tangkai hatimu? bunga telah mati. Tak ada lagi bahasa di antara kita tinggal kelopak-kelopak nilai berguguran dengan wangi terpatah. Menjadi taburan sampah menjadi hamburan limbah. Tak tertampung airmataku dalam peradaban dan sejarah pada takziah ini tinggal lagi batu-batu nisan mengajakku bicara hanya sunyi dan angker, berlalu dalam jejakku tak ada qasidah tak ada qariah tak ada wangi bunga ia tinggal kabar dari rindu dan ziarah 1990 PERAHU MALAM kutempuh pengembara dalam tahajud perahu membangun seribu kubah melayarkan doa ke luasan langit dengan jejak kafilah dan barisan orang-orang rindu menyusun kembali kiblat dari peradaban dan sejarah yang hanyut sepanjang badai kebudayaan kuhabiskan sisa tangis dan gelisah membangun arah ke laut sebatang sungai dengan arus airmata menyusun kembali batu-batu, ruang paling khusuk untuk diam dan bertapa mabuk 1994 PELABUHAN kujalani pengembaraan dalam kafilah sunyi jejak-jejak di pesisir menjadi saksi yang membangun sejarah dalam lipatan waktu di keningku, tak kutemukan wajahmu pada gerak nyiur di antara kabut yang menjelma pagi bahkan di celah-celah sinar matahari, hanya kerinduan terbit dari airmata, mengalir sehabis batang sungai habis di muaraku yang diam langit tak pernah sunyi, tapi dingin dan gemetaran dengan sobekan kertas kubuat bulan itulah suratku, menjadi cahaya bagi kesendirian akan sampai juga pada satu dermaga ketukan yang menyibakkan pintu memberangkatkan perahu meski di kaki langit senja membentangkan layar hitam kuseberangkan ia menjelma jazirah kehidupan mungkin di sana bulan keemasan ... 1994 KEKASIH telah sampai malam hari gemuruh senja di matamu telah sampai mimpi aku saksikan bulan lepas ke sebuah tepi dan kucatat sebuah epos legenda sunyi melati tertinggal dan kelambu selamat tinggal kau berbisik, "Mungkin matahari di luar sana, mungkin hanya irama jangkerik ..." kemudian aku yakin pada subuh dari bening embun kusepuh matahari 1994 JARAK "Telah kutempuh jalan ini. Arah makin bertambah lalu adakah entitas yang dapat menjaga jarak denganmu?" tak kulipat sajadah ini tak kuakhiri shalat ini "Telah kutempuh dengan jiwa ini. Biarkanlah jika ini dapat menarik garis kepada titikmu" berjalan dan berlari di atas dinamika sajadah bergerak dalam bentanganmu, melangit di ketinggian tetap saja, ingin habis jejak, ingin habis israk 1994 AIRMATA aku melangkah dari pagi hingga sudut matamu kutulis sejarah di lengkung langit, kaubaca seperti nestapa "Hanya legenda matahari di ujung langit mengapa tak ada entitas selain kesunyian?" sambil kauusap pipi kautunjukkan pedih, "Di sini, selalu ada embun sunyi menjadikannya kering." Bukankah kegelapan jadi alasan nyalakan api cinta? Bukankah airmata selalu menunggu jadi embun, atau apa saja ... 1994 DENGAN AIRMATA kujalani kekasih dengan airmata berlinangan sepanjang sungai pengembaraan mengalir bersama arus kekalahan dan dosa sampai muara; penyesalan atas namamu berlinangan aku di keluasan ampunan. Berlinangan abadi dalam sajak-sajak yang kubawakan dengan pedih sampai pucat, sampai pasi segenap batas perjalanan diri kubuka lipatan padang sajadah mengembunlah di sini segala penat udara perburuan menghikmati kejernihan suasana dengan taubat nasuha di hamparan hijau kiblatmu. Aku melangkah membangun rumah dengan tenaga doa dan matahari dhuha tempatku sujud dan menengadah 1991 PENDAKIAN aku mendaki langit lewat etape pegunungan berkabut menjelma angin yang mengirimkan cuaca menghujankan kata cinta tapi aku jatuh terkubur lumpur dan daun-daun sedang langit telah sembab dengan kabut dan airmata tak kaubuka keheningan tak ada bisik cemara yang melambai selain air terjun gelisah mencari jejak ke jurang dan lembah-lembah di bukit itu jalan setapak meninggalkan batu-batu suratmu di atasnya 1994 PENEMPUHAN pada dingin sajadah, di depan kitab aku masih dalam doa. Mengaji dalam ratap pengabdian suaraku ngembara menggetarkan linang airmata di keluasan pipimu. Sujud dan sunyi menyampaikan isak ketakberdayaanku. Rukukku menyampaikan kedamaian cinta pada sajadah penempuhan mengoyak lembar persekutuanku dengan dunia. Mabukku dan lampu-lampu kubah membeku menjelma kristal pencahayaan diri dari tahajud purnama aku penari dalam semesta kenikmatan. Melantai di beranda paling mistis dari seribu bunga-bunga tasbih untuk diam-diam menyaring nurmu. Aku pun menangis menyirami taman-taman hingga makna keindahan aku hanya wajah pada basah sajadah meski shalat membuka atau melipatku. Meski rakaat mengusap atau meluapkan airmataku. Sepanjang kiblat menggali terusan bagi doa-doa dan sungai jiwa menempuh laut keridhaan. Berlayar tersedu sepanjang malam keemasan. Sepanjang malam keemasan 1991 BERLAYAR di atas surat-suratmu kaubuat samudra dengan gelombang dan kepedihan pada jiwa yang berdebar kehidupan bergetar ada ombak ada sajak juga badai di atas perahu kubaca surat-suratmu 1994 DALAM GELIAT SAJADAH aku lumpuh dalam sepi menunggu jua hingga dzikir melumut di dinding hati menyertakan padang rumput saunamu O, bentangan sajadah ... kujelajahi ia tanpa batas aku menunggu. Hingga kaugulung ia ke dalam kalbu dalam geliat sajadah yang tergeletak di persada langit. Waktu pun tiada dimensi ruang dan gerak menyatu dalam hasrat diri menjadi diam tiada aku sudah terbenam di atas sajadah hanya tersisa kepingan masa 1994 PADA SEBUAH MUARA aku lumpuh dalam sepi di langit bulan sobek, di hati kegalauan sungai pucat tanpa ombak tanpa sampan harus bagaimana kutempuh laut ridha kubiarkan aku kelam dan tiada 1994 SEHABIS KERINDUAN telah kutempuh sungai cinta melayarkan rindu ke muara adakah perahu senantiasa kujalani untuk berjumpa denganmu? perahu yang hanyut di airmata tak membawa apa-apa sebagaimana cinta; bukan kata-kata 1994 LAUT SUNYI sunyi lautan tenggelam dalam cahaya bulan langit-langit kita; terdampar pada batas yang tak tercapai bulan menggigil. Lagi-lagi kita; terpanggil seperti angin menggigil di laut yang telanjang menempuh keluasan rahasa yang terbentang dalam mil-mil kegelapan. Memangil kita bangkitkan cinta di bawah kesadaran samudra menjadi perahu. Lalu berlabuh di tambatan ketujuh "Ikatlah daku. Ikatlah daku." Bulan lepas ke langit jauh ... laut sunyi. Makin sunyi gelombang rindu menenggelamkannya 1994 PENYEBERANGAN JIWA perahu yang terdampar di wajahmu adalah jejak yang tak dapat lagi ditampung lautan doa kauciptakan titian antara jiwa dan kedamaian aku tertatih mengeja sunyi dengan airmata di atas dermaga yang memanjang hingga sajadah 1994 TAJUK RENCANA akan kita saksikan lagi 1 juta pohon ditanam rakyat negeri dan kau berkata, "Tidak sekedar mimpi." lalu sebuah berita, "Ada kebakaran hutan di seberang harapan ..." mengingatkan aku pada raut wajahmu menjelajah padang tandus dan bekas penambangan tembaga hutan tropis membentang dari balik hatimu hingga kepedihanku. Sayap-sayap musim terpatah dalam prakiraan cuaca yang salah badai melambai dan langit pucat pasi. Ketakutan seratus gagak kampanye kematian bumi terpana dalam rintih ozon dan nestapa dan bencana jadi rencana jangka panjang pembangunan hujan kian memberat, menghembuskan aroma sulfat lalu kubaca koran, "Ada penghijauan di seberang kecemasan ..." mengingatkan aku padamu. Cita-cita menjulang menyatukan daratan dengan sutra warna hijau lalu kau ulang: aku cinta negeri ini, aku cinta negeri ini senantiasa kita rindukan menyaksikan lagi 1 juta pohon ditanam rakyat negeri dan barangkali 1 juta pohon akan kembali ... 1993 LANSKAP dari jalan bebas hambatan kupandang ia dan jarak terus bertambah memisahkan aku dan bau tanah tapi katamu, "Tak ada bau tanah selain furadan dan entah. Ada teknologi mengembangkan pangan kimiawi." dan musim hujan berhenti tanpa kenangan selain sisa banjir dan bangkai padi dan impian kita gelisah di sini tanpa akhiran tak mampu bertahan menyaksikan sungai-sungai nurani mengalirkan limbah dan kematian bermuara di jiwa kita. Di laut kegalauan menjelma kita: pelaut yang tak pernah kembali seperti kepedihanmu aku masih mencari dermaga yang hilang 1993 LEBARAN "Cinta kembali melahirkanmu..." bersahutan takbir menaburkan harum asap ketupat sehabis airmata sebelas rakaat dan sunyi yang melengking jauh telah kulukis pengembaraan dengan puasa sebulan, senantiasa tersedu malam sempurna dan sejuta ampunan, senantiasa kurindu kuselusuri airmata kusiramkan pada taman kalbu dan bulan mengenakan gaun cahaya yang baru kubuka lipatan padang sajadah, senantiasa tersisa kepingan harapan kubangun matahari pagi, takbiran dan kemenangan lalu batu-batu nisan mengajakku ziarah kembali aku ke kejadian tanah 1997 JENDELA malam panjang dalam selimut musim dingin mengigaukan kehangatan dan ingin di jendela, guguran salju menangisi ciuman yang tak sampai malam telah sarat waktu untuk bermimpi dan cinta menyalakan api unggun untuk bernyanyi 1996 HAIKU MUSIM GUGUR "Angin musim gugur membungkukkan pepohonan daun-daun momiji bertaburan kulihat bulan di balik ranting." ke ujung bumi yang jauh matahari sempurna dalam senja meninggalkan gemuruh dalam angin musim gugur menghanyutkan cuaca. Sunyi dan gemetaran adakah rumah untuk kembali bagi daun-daun jatuh atau sekedar berputar-putar dalam ritus shake membakar angin mabuk menuju purnama tapi tak ada api di kuil, tak ada asap yang mengantarkan aroma bunga untuk sembahyangmu ke nirwana aku saksikan bulan jatuh di sebuah o-haka. Telah sampai doa 1996 haiku = puisi Jepang o-haka = pekuburan di Jepang MENYAKSIKAN BULAN dari Kyoto kuhikmati sunyi itu miyako memandang malu hanya menunduk sampai Daikakuji purnama di telaga telah sempurna bertahan memuja bulan "sebab itu, langit menjadi kenangan ..." dan miyako yang santun menyuguhkan teh upacara hingga mimpi bersama dewa aku menjadi air telaga dan ia tercebur di sana 1996 miyako = gadis Kyoto bergaun kimono daikakuji = sebuah kuil di telaga Osawa, pada bulan September orang-orang datang untuk menyaksikan bulan di atas telaga.