Radhar Panca Dahana ORGASME MALAM PURNAMA mestinya aku mengerti apa yang terjadi. karena bulan tiba-tiba menjadi batu sungai. yang susut lantaran resapan waktu. yang mengalir di antara sisi rasa benci. aku tidak mengerti. kalau dulu sebenarnya langit tak pernah punya kehendak melahirkan bulan. karena bulan membenci siang. sementara aku menyukai panas dan kegetiran. bah. aku hendak mendaki atap untuk menangkap moncong bulan. sayangnya perapian rumahku mengepulkan asap dapur, mengaburkan pandanganku. jadilah. jadi. aku tak jadi mengharapkan malam dan langit hitam. di mana pernah cita-citaku menempel di sana. ibu, aku melihat pangkuanmu memenuhi galaksi di mana kita berdiam. aku melihat kerdap matamu menjadi bintang. oh oh kata-kataku habis karena ereksi. kutuklah purnama agar segera kunikmati orgasme ini. heh heh heh ... seperti bersimbah darah sudah. aku memang telah membunuh. aku telah membunuh. seorang perempuan di mana cinta selama ini menanak nasi untuk sarapan paginya. tolong tolong! tolong aku menghabiskan suara. menghabiskan kata. aku tak lagi mampu bicara. karena kata karena kata... orgasme aku orgasme. dan bulan, sebentar lagi purnama. 1990