DI JAZIRAH BURUNG HANTU Di Jazirah Burung Hantu selalu datang ombak yang saling memperebutkan batas yang kita tak pernah tahu. Merambat, melepas telapak teluk, baris cadas, dalam suara sibuk pasang yang menorehkan bekas Tapi kali ini balsam hutan memilih warna jinta di ceruk selatan pelabuhan. Pesta tengah Mei setelah unggas tak pergi lagi Sementara kau akan dengar juga teriak mercu menabrak kabut, menyibak gelap, menggapai kapal-kapal lunglai, layar yang tiarap di sela-sela grimis keras, grimis kerap, kepada siapa akanan berhenti membiru, dalam sore yang jadi sembab Paginya teluk akan timpas Dan akan pulang, semua pulang, pemburu-pemburu udangkarang ke pantai yang hanya bekas. Dan kau bertanya adakah lusa akan kaulihat kembali perbani, bulan yang jalan seperti gadis peniti tali dalam sebuah sirkus senja antara pucuk karang dan pohon elma Tapi di Jazirah Burung Hantu, sepi adalah suara takzim gumam daun-daun hikori: suara mualim pada peta navigasi Dan kau akan datang kes sana, mengikuti arahnya, seakan ombak, seakan ombak biru kelabu, selalu - sebelum pergi. 1990