Apologia Sepasang Mata Biografi Kekuasaan Nostalgia Taman Agenda Hari Tua Melodrama Ruang Tunggu APOLOGIA SEPASANG MATA -- GD 1 Di bawah bentangan malam yang semakin memanjang ke ujung dermaga, dari semenanjung kota-kota tua; mungkin Batavia, atau barangkali teluk Surabaya -- yang kini dipenuhi prasasti, bidadari, berhala, boneka condominium, dan jangan lupa -- tahun-tahun yang gores juga seorang pendekar renta yang gelisah memainkan orkes masih bertahan dalam remang waktu, mengabadikan sunyi 2 Tetapi, di tengah gerimis, pendar kegelapan dan percik luka kita terlanjur gugup, memasuki kota-kota lain yang miskin; mungkin Negeri Poci, atau gubuk-gubuk pesisir laut utara yang berserakan di antara pohon api, amis ikan, rawa-rawa ladang garam, dan yang menggetarkan -- perahu-perahu bertapa di atas kerontang dada nelayan, menghadap keheningan cuaca serpihan hari-hari seperti seratus senja yang berayun letih 3 Dan, di bawah bentangan malam, lambaian perih gerimis pagi kembali kita menemukan sisa-sisa kenangan kota revolusi: mungkin sebuah metropolitan kecil, atau noktah serambi Mekah -- yang berjuntaian dengan retakan kraton, grafis candi, labirin benteng-benteng sejarah, semua berpatahan -- dalam kristal dingin seperti arkeolog, ada yang ingin menceritakan kisah-kisah purba kepadamu, yang dituliskan dan dilukiskan pada sepasang mata Cirebon, 1996 BIOGRAFI KEKUASAAN -- SBP Lupakanlah, segenap dongeng atau novel picisan -- yang mendengung bagai letusan-letusan api senapan dari beranda rumah, ruang temu sampai boks-bayi tempat anak-anak bermain juga melarutkan mimpi semua gemetar menyebabkan kita demam, influenza tbc dan hipertensi. Hari-hari berkabung, penuh luka yang bermekaran sepanjang alis dan linangan airmata Lupakanlah sekejap, segala mitos atau igauan -- yang melingkar-lingkar bagai lilitan ular dari sisi ranjang, meja makan sampai ruang kerja sudut-sudut sederhana yang senantiasa menghibur kita tak tersisa, semua mengapung jejak-jejak kehidupan ini menganaga -- seperti kata Peter, pedih dan sunyi menjulang di hadapanmu, membangun piramida kurban manusia* Didepan sepiring nasi, ikan asin dan semangkuk sayuran -- dada kita masih terus diketuk-ketuk bagai daun pintu di mana-mana, kekuasaan melukisakn beribu derap kaki yang berbaris, mengepalkan tangan di udara terbuka dengan wajah srigala lapar dari kegelapan semak belantara meski, di sekitar retakan tubuhnya yang renta dan membara terbayang relief-relief berhala yang dikekalkan pada pendusta. Cirebon, 1996 NOSTALGIA TAMAN -- CSH Di sudut taman itu, -- di suatu detik yang aneh waktu meleleh di antara serbuk cahaya lampu dan rumpun perdu separuh subuh mendekati maut, retakan kata-kata berkabut telah membelai kita, sepenuh luka menerima sayatan airmata jauh di kegelapan, tangisan yang perih dinyanyikan deru laut senantiasa runcing kepedihan mewarnai senjakala usia arak-arakan camar di tebing jiwa, dan gelisah hari-hari juga membawa kita pada kisah panjang kehidupan peri Dari celah dinding tahun, -- di sebuah malam yang ranum langit mendesak dan bergerak ke arah kita, bulan tercium percik gerimis berpendaran, melambai ke penjuru penghabisan awan terbelah, seperti irisan-irisan peta yang menganaga lama kita terbenam mendengarkan lagu-lagu sendu atau mungkin jeritan yang dilumuri getir fantasi memaksa kita untuk sentimentil dan patah hati Di setiap taman, -- di atas cawan kenangan yang sia-sia getar pertempuran, demikian indah dilukiskan lanskap kota dan segala yang emmabukkan, seperti serpihan api puisi telah menyulut kita, perlahan menjadi kunang-kunang sungguh, pada puncak nestapa nanti, hanya pesoina luka yang akan mengasah kekagumanku pada biografi kupu-kupu jejak musim semi, siraman anggur, ledakan kekearasan rintihan iklan, ketiak perempuan, juga irama kematian Tapi, bukankah kita masih mencintai hidup yang tragis ini? Cirebon, 1996